Tiba-tiba malam ini pecah
melintas
rasa kangen yang lindap
memunculkan pertikaian lubuk kemarin
menguras gerimis
pada helaian waktu yang belum sempat kusikapi.
Angin terlalu cepat bergerak
sedang nada mencoba mengubur detak
dan meringkas wajahmu di antara musim
melepas pikiran ganjilku pada pekik kesakitan
menjalar ke seluruh tubuhku dalam gigilnya melepas.
Kemarau ini, mendahagakan cinta
menyembelih denyar hidup
tak juga rampung oleh perubahan cuaca
bahkan menjadi rutinitas kejemuan.
Aku mengingat secangkir kopi
memanggil rindu
di antara kedua kelopak sayu
mengeja huruf
lalu melukisnya dalam kata
betapa riuhnya kehadiranmu menempel
memenuhi imajinasiku.
.Kuningan 6 Agustus 2017.

No comments:
Post a Comment