hai kawan semua pengunjung blog putra jangan lupa komen dan bagikan yah

Thursday, August 17, 2017

KADANG

Kesibukan memaksa kita untuk jauh sementara
Kesibukan memaksa kita bertaruh oleh tujuan
Kesibukan memaksa kita meninggalkan kesenangan
Kesibukan memaksa kita melupakan yang terkasih

Andai kala itu, kesibukan bisa kita imbangi
Maka kita akan mengerti arti hadir diri ini
Menjadi sosok yang ada untuk siapa
Kapan saja
Di mana saja

Merangkai cerita dengan hanya sedikit derita
Kadang .... kita lupa untuk bahagia
Kadang .... kita bahagia tapi lupa adanya mereka

*Putra Azzuhri
Kuningan Agustus 2017

Wednesday, August 16, 2017

Untuk INDONESIA

Indonesia tujuh dua
Kini perlu jutaan doa
Dari sekedar pesta pora
Riuh penuh canda tawa

Indonesia empat lima
Cukup tua tak kunjung dewasa
Korupsi jadi budaya
Kemiskinan warisan tiap masa

Indonesia milik siapa
Milik penguasa atau rakyatnya
Yang disana tutup mata
Yang disini sesak merana

Indonesia bumi kita
Terbentang seluruh nusantara
Dari aceh hingga papua
Bukan semata gambaran peta

Indonesia zamrut katulistiwa
Indahnya hingga mancanegara
Jangan nodai isu sara
Rusak persatuan bangsa

Indonesia merdeka !
Kami menolak lupa
Kemerdekaan hak segala bangsa
Termasuk juga untuk kita

Putra Azzuhri
Kuningan 17 agustus 2017.

Merdeka hanya Berlalu


72 tahun telah berlalu
Saat para pejuang bernyawa hamparkan sejarah
Berikan sisa darah demi negara
Tak minta jasa berbalik arah
Tulus tak bermodus
.
Detik kian beranjak
Teringat malam 72 silam
Merajut kata 'MERDEKA'
Bersama merangkai indahnya keluarga
Kita Indonesia
.
Malam ini pun sama
Tak berubah
Masih dengan merdeka palsu
Dimana hanya sesumbar kosong yang ada
Janji janji manis terlontar dengan mudah
Kita merdeka hanya berpura
Raga merdeka namun jiwa tertawan
Tidak
.
Dari sini, izinkan aku bercerita sejenak, mengulas kembali para pejuang kita dulu, yang sangat gigih dalam menyeruhkan merdeka. Dimulai dari Sang revolusioner kita, Bung Karno, beliau dari kecil sudah dilatih untuk berkorban, berkorban jiwa dan raga demi membantu orang-orang kecil, beliau ikhlas tanpa mengharap balas dari mereka, hingga di penghujung usianya pun beliau masih berjuang agar rakyatnya bisa merdeka lahir batin. Kisah lain tentang pejuang tak dianggap kepejuangannya, beliau adalah Tan Malaka, lahir di tanah Sumatera, semenjak kecil sudah terlihat kegigihan beliau dalam berorganisasi, selain itu beliau pun punya cita-cita luhur sewaktu masih dalam tahap belajar, yakni ingin merebut kembali kejayaan dan kemerdekaan negeri ini. Setelah tamat dari sekolah beliau langsung melanjutkan studinya ke Belanda serta merencanakan berbagai macam ide guna kemerdekaan negerinya. Singkat cerita, sekembalinya dari luar negeri, beliau langsung melaksanakan ide yang telah disusunnya itu agar supaya negeri ini bisa kembali damai merdeka tanpa terjajah. Namun keadaan berkata lain, bukan sambutan hangat yang diterima beliau dari orang negeri ini melainkan timah panas yang akhirnya membawanya pada kematian. Dia begitu berani, ikhlas membela supaya merdeka, tak menuntut balas budi ataupun puji, bahkan sampai sekarang pun namanya tetap hilang melebur bersama waktu. Kata-kata dari beliau " Barang siapa yang menghendaki kemerdekaan buat umum, maka ia harus sedia dan ikhlas untuk menderita kehilangan kemerdekaan diri-(nya) sendiri." Sanggupkah kau?
Kisah lain mengenai tentang penyair kemerdekaan, Dialah Chairil Anwar, penyair garis keras ini sangat menentang penjajah yang kejam menghancurkan sastra indonesia, dari syairnya itulah para penjajah lari terbirit-birit, meracuni pikiran mereka supaya masuk dalam perangkap kita. Namun dia pun hanya bisa berencana tapi Tuhan yang menentukan, Beliau pergi selamanya membawa kabar-kabar itu. Kabar bahwa masih ada AKU sesosok binatang jalang yang tengah mengoyak sepi, mengoyak pikiran-pikiran lemah, dan dia bahkan masih di sana berakhir dan berakhir namun tumbuh lagi hingga terciptalah AKU yang bakal hidup seribu tahun lagi.
.
.
.
.
.
.
Kisah-kisah itu diambil dari buku tentang mereka. Maaf Indonesia Aku Mahasiswa yang masih labil. Aku mahasiswa yang belum mengerti apa itu tulus, Aku mahasiswa yang belum mengerti apa itu penghargaan, karena kemarin, hari ini, bahkan besok. Aku Kamu Mereka dan Dia hanya merdeka dalam luar, sedang dalamnya masih terjajah.
.
.
.
Putra Azzuhri
Kuningan.17-08-2017

Monday, August 14, 2017

Pramuka

Gemuruh putra putri bangsa
Berseru menyeru
Praja muda karana

Para pembina berdiri dengan tegap menantang matahari
Duduk tak lagi runduk
Berdiri kembali tegap

Semua berteriak
Pramuka
Praja muda karana

Kuningan, 14 Agustus 2017

Saturday, August 12, 2017

*Jatuh cinta*


.
Tentang jatuh dan cinta. Dua kata yang miliki rasa berbeda. Indah memang, bila benar bisa memaknai rasa seyogyanya.
Bagaimana bidadari jatuh dari surga demi cinta ? Lalu Pangeran turun tahta demi upik abunya? Sungguh tak masuk nalar manusia.
Mungkin di Surga sudah tak ada lagi pria, atau sang pangeran telah jenggah urusi mahkota sahaja.
Mungkin dengan jatuh dari singgasana, rasa nyaman tercipta. Rasa nyaman yang kemudian diberi nama cinta. Rasa yang bisa buat bahagia hingga rawa-rawapun bak taman bunga.
Ah, apa kau sudah merasa nyaman sekarang? Maafkan aku yang cukup takut untuk jatuh bersamamu. Takut keluar dari zona nyamanku untuk berjuang mencari kenyamanan dalam dekap pelukmu.
Mungkin harusnya kau siapkan parasut dulu, karena aku takut ketinggian. Dan takut jadi kepingan bila jatuh kedaratan.
Apa kau sudah merasa nyaman sekarang ? Jatuh dan Cinta dengannya di pelaminan.
KUNINGAN 12 Agustus 2017

Friday, August 11, 2017

PERIHAL ESOK

Biarkan aku mengeja waktu
tanpa air mata
dan rasa khawatir yang lindap
menggetarkan hati.

Di bukit rindu kusimak perjalanan
betapa senyum menghantui
menggoyahkan langkah
dalam meraih cakrawala.

Denyar ini gamang di kelopak
tenyang abu dan esok
segera akan hadir
berkisah,
menjadi catatan pendek perjalanan.

Kuningana, 11 Agustus 2017.

KEPENATAN MASA

Kita adalah pengejar sang waktu
dengan bonus dentuman bom, memenuhi kepala
meramaikan etos kerja, merumitkan jalur
hingga ruang penat, menerobos rutinitas monoton di ujung malam, kala sebuah tempat istirahat harus bergeser dari kelopak mata.

Ironis ....
dari celah ventilasi, arah angin mengejek tubuh sayu akan kebebasan menghirup napas
sebab jasad ini terlalu dahaga, menimbun banyak catatan jejak langkah tanpa menormalisasikannya kedalam kesejukan.

Ah, acapkali ingin melepas episode
menjadi bocah, meriuhkan permainan tanpa pikulan beban
hawa itu selalu hadir terlukis
namun hanya serupa angan.

Entahlah!
aku serasa asing dengan pergerakan kali ini
wahai kesenangan!
ajarilah membentuk kesederhanaan
dalam belenggu relung hati.

Kuningan, 11 Agustus 2017.

Thursday, August 10, 2017

Republik kata - kata

Agustus menyambut tubuh puisi
yang kalut
di lorong kosong perjalanan.

Kita terbentuk dari biji kenangan
belajar perbedaan juli tempo lalu
saat semangat juang masih begitu gemuruh
tanpa bahasa patung
memanggil manggil kedamaian.

Kini-

Ucap gelombang hanya basa basi
di tubuh pertiwi
hanya memaknai wajah wajah polusi
berimigrasi
lalu pecah tanpa isi.

Adakah keriuhan ini akan beradaptasi?
mengakrapi tanah keretakan negeri
ataukah gerimis akan melebatkan jalan?
pada perjumpaan masa
berakhir sama, tiap episodenya.

Entahlah!
Sepenggal cahaya buram buram
sebagian kunang kunang
sebab malam terjelajah, oleh budidaya harta pemilik zaman.

Putra Azzuhri.
Kuningan, 10 Agustus 2017.

Nu - gotong royong

Di tengah kehidupan yang serba materialistis dan pragmatis ini, NU kembali pada spirit pesantren yang mengutamakan nilai kejujuran, pengabdian, gotong-royong, dan kebersamaan.

Kembali secara spirit dan filosofis ini perlu disertai kembali secara fisik, karena dengan kembali ke pesantren, kita dihadapkan pada fasilitas seadanya, dilayani secara apa adanya. Tetapi dari sini kita bisa bangkitkan pola hidup sederhana dan kebersamaan,

sejak 1983-1984 NU telah menyelenggarakan hajat nasional munas dan muktamar bertempat di pesantren di desa terpencil Asembagus, Situbondo, Jawa Timur. Kala itu NU menegaskan kembali ke Kittah 1926, dan menegaskan Pancasila dan UUD 1945 adalah harga mati.

Tahun 1986 NU menyelenggarakan munas di desa Kasugihan, Cilacap, Jawa Tengah, dan menelurkan gagasan besar mengenai pembangunan nasional dan konsep ijtihad, yang mampu menggerakkan dunia pemikiran Islam. Pada 1987 NU menyelenggarakan munas di Bagu, sebuah desa terpencil di Nusa Tenggara Barat. Di situ NU mengeluarkan keputusan dibolehkannya perempuan menjadi presiden yang saat itu masih dianggap kontroversial.

Ngaji rasa, ngaji jiwa' sejarah.

(Putra Azzuhri)
8 Agustustus 2017

Wednesday, August 9, 2017

Terjebak' macet

Aku mencintaimu dalam lubuk kenangan
tersingkat di antara rel rel kesakitan
seandainya kita adalah sepasang keabadian
mungkin pemusnah raga takakan menghampiri.

Cinta terjebak macet
dalam rutinitas alam
merontokkan tubuh
pecah jadi kehampaan.

Ah masa, persatukanlah!
sebab aku ingin pengakhiran lebih indah
dari catatan singkat
episode gerimis.

Kuningan,10 Agistus 2017.

Tuesday, August 8, 2017

Kamu

Binar matamu bak embun menggantung, menyegarkan nan menentramkan jiwa.

Senyum di bibirmu laksana semburat jingga. Membelalakan mata.

Andai gunung kujadikan emas dan buih lautan kusulap jadi permata, itu takan cukup untuk kujadikan mahar karena dirimu tak ternilai.
...

Putra Azzuhri
Kuningan Agustus 2017

KADANG

Kesibukan memaksa kita untuk jauh sementara Kesibukan memaksa kita bertaruh oleh tujuan Kesibukan memaksa kita meninggalkan kesenangan K...

kata kata mutiara dan cinta