72 tahun telah berlalu
Saat para pejuang bernyawa hamparkan sejarah
Berikan sisa darah demi negara
Tak minta jasa berbalik arah
Tulus tak bermodus
.
Detik kian beranjak
Teringat malam 72 silam
Merajut kata 'MERDEKA'
Bersama merangkai indahnya keluarga
Kita Indonesia
.
Malam ini pun sama
Tak berubah
Masih dengan merdeka palsu
Dimana hanya sesumbar kosong yang ada
Janji janji manis terlontar dengan mudah
Kita merdeka hanya berpura
Raga merdeka namun jiwa tertawan
Tidak
.
Dari sini, izinkan aku bercerita sejenak, mengulas kembali para pejuang kita dulu, yang sangat gigih dalam menyeruhkan merdeka. Dimulai dari Sang revolusioner kita, Bung Karno, beliau dari kecil sudah dilatih untuk berkorban, berkorban jiwa dan raga demi membantu orang-orang kecil, beliau ikhlas tanpa mengharap balas dari mereka, hingga di penghujung usianya pun beliau masih berjuang agar rakyatnya bisa merdeka lahir batin. Kisah lain tentang pejuang tak dianggap kepejuangannya, beliau adalah Tan Malaka, lahir di tanah Sumatera, semenjak kecil sudah terlihat kegigihan beliau dalam berorganisasi, selain itu beliau pun punya cita-cita luhur sewaktu masih dalam tahap belajar, yakni ingin merebut kembali kejayaan dan kemerdekaan negeri ini. Setelah tamat dari sekolah beliau langsung melanjutkan studinya ke Belanda serta merencanakan berbagai macam ide guna kemerdekaan negerinya. Singkat cerita, sekembalinya dari luar negeri, beliau langsung melaksanakan ide yang telah disusunnya itu agar supaya negeri ini bisa kembali damai merdeka tanpa terjajah. Namun keadaan berkata lain, bukan sambutan hangat yang diterima beliau dari orang negeri ini melainkan timah panas yang akhirnya membawanya pada kematian. Dia begitu berani, ikhlas membela supaya merdeka, tak menuntut balas budi ataupun puji, bahkan sampai sekarang pun namanya tetap hilang melebur bersama waktu. Kata-kata dari beliau " Barang siapa yang menghendaki kemerdekaan buat umum, maka ia harus sedia dan ikhlas untuk menderita kehilangan kemerdekaan diri-(nya) sendiri." Sanggupkah kau?
Kisah lain mengenai tentang penyair kemerdekaan, Dialah Chairil Anwar, penyair garis keras ini sangat menentang penjajah yang kejam menghancurkan sastra indonesia, dari syairnya itulah para penjajah lari terbirit-birit, meracuni pikiran mereka supaya masuk dalam perangkap kita. Namun dia pun hanya bisa berencana tapi Tuhan yang menentukan, Beliau pergi selamanya membawa kabar-kabar itu. Kabar bahwa masih ada AKU sesosok binatang jalang yang tengah mengoyak sepi, mengoyak pikiran-pikiran lemah, dan dia bahkan masih di sana berakhir dan berakhir namun tumbuh lagi hingga terciptalah AKU yang bakal hidup seribu tahun lagi.
.
.
.
.
.
.
Kisah-kisah itu diambil dari buku tentang mereka. Maaf Indonesia Aku Mahasiswa yang masih labil. Aku mahasiswa yang belum mengerti apa itu tulus, Aku mahasiswa yang belum mengerti apa itu penghargaan, karena kemarin, hari ini, bahkan besok. Aku Kamu Mereka dan Dia hanya merdeka dalam luar, sedang dalamnya masih terjajah.
.
.
.
Putra Azzuhri
Kuningan.17-08-2017
mencintaimu sederhana itu Cintailah dirimu sendiri agar engkau bisa mencintai orang lain
hai kawan semua pengunjung blog putra jangan lupa komen dan bagikan yah
Wednesday, August 16, 2017
Merdeka hanya Berlalu
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
KADANG
Kesibukan memaksa kita untuk jauh sementara Kesibukan memaksa kita bertaruh oleh tujuan Kesibukan memaksa kita meninggalkan kesenangan K...
kata kata mutiara dan cinta
-
pada langit kusampaikan rintihan hati tertahan gelap penantian pada seseorang yang entah siapa gerangan pada hujan kukatakan berhentil...
-
Di tengah kehidupan yang serba materialistis dan pragmatis ini, NU kembali pada spirit pesantren yang mengutamakan nilai kejujuran, pengabdi...

No comments:
Post a Comment