Di tengah kehidupan yang serba materialistis dan pragmatis ini, NU kembali pada spirit pesantren yang mengutamakan nilai kejujuran, pengabdian, gotong-royong, dan kebersamaan.
Kembali secara spirit dan filosofis ini perlu disertai kembali secara fisik, karena dengan kembali ke pesantren, kita dihadapkan pada fasilitas seadanya, dilayani secara apa adanya. Tetapi dari sini kita bisa bangkitkan pola hidup sederhana dan kebersamaan,
sejak 1983-1984 NU telah menyelenggarakan hajat nasional munas dan muktamar bertempat di pesantren di desa terpencil Asembagus, Situbondo, Jawa Timur. Kala itu NU menegaskan kembali ke Kittah 1926, dan menegaskan Pancasila dan UUD 1945 adalah harga mati.
Tahun 1986 NU menyelenggarakan munas di desa Kasugihan, Cilacap, Jawa Tengah, dan menelurkan gagasan besar mengenai pembangunan nasional dan konsep ijtihad, yang mampu menggerakkan dunia pemikiran Islam. Pada 1987 NU menyelenggarakan munas di Bagu, sebuah desa terpencil di Nusa Tenggara Barat. Di situ NU mengeluarkan keputusan dibolehkannya perempuan menjadi presiden yang saat itu masih dianggap kontroversial.
Ngaji rasa, ngaji jiwa' sejarah.
(Putra Azzuhri)
8 Agustustus 2017

No comments:
Post a Comment